Sebelum kita masuk ke inti pembahasan, izinkan saya jujur: saya bukanlah seorang otaku sejati. Saya jarang duduk berjam-jam menonton serial anime terbaru atau mengikuti rilis mingguan di platform streaming. Namun, sebagai pengamat budaya populer—dan seseorang yang sering berinteraksi dengan generasi muda—saya tak bisa menutup mata terhadap fenomena global yang sedang berlangsung: ledakan popularitas animasi Jepang (anime) dan animasi Tiongkok (donghua).
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah gelombang budaya yang mengakar dalam, menyebar melalui musik, gaya hidup, bahkan cara berpikir. Dan yang paling mencolok: Indonesia, dengan segala potensinya, masih terlihat seperti penonton di tribun, bukan pemain di lapangan.
Mari kita telusuri lebih dalam.
—
Dulu, anime mungkin dianggap sebagai “kartun anak-anak”. Tapi hari ini, anime telah berkembang menjadi medium naratif yang kompleks, visual yang memukau, dan ekspresi budaya yang mendunia. Dari Demon Slayer hingga Jujutsu Kaisen, dari Your Name hingga Attack on Titan, anime kini menyentuh berbagai genre—drama, psikologis, sci-fi, hingga filsafat eksistensial.
Yang menarik bukan hanya kualitas produksinya, tapi dampak sosialnya. Di kafe-kafe, di kampus, bahkan di stasiun kereta, tak jarang kita mendengar lagu-lagu Jepang—OST anime—dinyanyikan atau diputar. Komunitas cosplay tumbuh subur. Bahkan, banyak anak muda Indonesia yang mulai belajar bahasa Jepang bukan karena kebutuhan akademis, tapi karena ingin memahami dialog asli tanpa subtitle.
Anime bukan lagi “tontonan asing”. Ia telah menjadi bagian dari identitas budaya global—dan generasi muda Indonesia adalah salah satu penggemar paling antusias di dunia.
—
Di sisi lain, donghua—animasi Tiongkok—perlahan-lahan mengambil alih perhatian dunia. Dengan dukungan teknologi 3D mutakhir, studio-studio seperti Perfect World Animation, Tencent Video, dan Bilibili menghadirkan karya-karya yang menyaingi kualitas film Hollywood dalam hal visual.
Bayangkan: karakter dengan rambut yang bergerak natural, latar belakang kota futuristik yang detail, pertarungan seni bela diri yang dinamis dan penuh efek cahaya—semua itu kini menjadi ciri khas donghua modern. Serial seperti Mo Dao Zu Shi (Grandmaster of Demonic Cultivation), Heaven Official’s Blessing, atau A Will Eternal tidak hanya populer di Tiongkok, tapi juga memiliki basis penggemar internasional yang besar.
Tentu, tak semua donghua sempurna. Masih ada yang terjebak dalam gerakan kaku (rigging yang kurang halus), ekspresi wajah datar, atau alur cerita yang terburu-buru. Namun, progresnya luar biasa cepat. Dalam lima tahun terakhir saja, kualitas rata-rata donghua naik drastis—sebuah bukti komitmen industri Tiongkok terhadap inovasi dan ekspor budaya.
—
Satu hal yang menyatukan anime dan donghua modern: akar ceritanya berasal dari sastra populer. Di Jepang, banyak anime diadaptasi dari light novel atau manga. Di Tiongkok, hampir semua donghua hits berasal dari web novel—khususnya genre xianxia (cultivation immortal) dan xuanhuan (fantasi mistis dengan elemen budaya Tiongkok).
Genre ini menawarkan dunia epik: kultivasi roh, pertarungan melawan dewa, perjalanan ribuan tahun untuk mencapai keabadian, dan sistem kekuatan yang rumit namun memikat. Bagi penonton, ini bukan sekadar hiburan—ini adalah pelarian ke alam imajinasi yang kaya, filosofis, dan penuh simbolisme.
Dan yang menarik: banyak penulis web novel Tiongkok justru berasal dari luar Tiongkok, termasuk Indonesia. Ya, karya lokal kita—dalam bentuk tulisan—sudah ikut mewarnai industri global. Tapi sayangnya, versi animasinya belum lahir dari tanah air sendiri.
—
Kita punya cerita rakyat yang kaya: Mahabharata versi Nusantara, legenda Nyi Roro Kidul, kisah para wali, hingga mitologi Dayak dan Papua. Kita punya seni bela diri seperti pencak silat yang diakui UNESCO. Kita punya lanskap alam yang memesona—gunung, hutan, laut—yang bisa jadi latar epik.
Tapi mengapa industri animasi kita masih berkutat di konten edukatif anak-anak atau parodi komedi?
Bukan berarti tidak ada usaha. Ada Battle of Surabaya, Siti, Si Juki, dan beberapa proyek indie yang menunjukkan potensi luar biasa. Namun, skala, konsistensi, dan dukungan ekosistem industri—mulai dari pendanaan, SDM teknis, hingga distribusi global—masih jauh tertinggal.
Apakah Indonesia “selalu tertinggal”? Atau justru… kita sedang bekerja di balik layar?
Faktanya, banyak animator dan seniman Indonesia yang terlibat dalam produksi internasional—termasuk proyek-proyek anime dan game global. Mereka hebat. Mereka dihargai. Tapi karyanya tidak membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
Mungkin inilah ironi terbesar: kita punya talenta, tapi belum punya wadah nasional yang kuat.
—
Indonesia tidak perlu meniru Jepang atau Tiongkok. Kita punya identitas sendiri—yang justru bisa menjadi kekuatan unik di tengah lautan konten global.
Bayangkan:
Semua itu bukan mimpi. Itu mungkin—jika ada kolaborasi, keberanian, dan dukungan kolektif.
Jadi, untuk para animator, penulis, sutradara, investor, dan penikmat budaya di Indonesia:
Jangan hanya jadi penonton. Jadilah pencipta.
Dunia sedang menunggu kisah dari Nusantara.
Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak muda di Tokyo atau Shanghai akan menyanyikan OST animasi buatan Indonesia—dengan penuh semangat.
Sebagai penikmat dunia animasi, tentu kita semua berharap agar suatu hari nanti, karya anak bangsa bisa bersaing di kancah internasional. Tidak harus meniru Jepang atau China, tetapi menghadirkan ciri khas Indonesia yang autentik dan kuat secara identitas.
Mungkin saja, di balik layar industri animasi dunia, sudah ada tangan-tangan kreatif asal Indonesia yang ikut berperan. Kalau benar demikian, bukankah itu justru menunjukkan betapa hebatnya talenta kreator lokal kita?
Mari kita dukung dan beri semangat bagi para animator dan kreator Indonesia agar terus berkarya. Dunia sudah menunggu karya besar berikutnya — dan siapa tahu, itu berasal dari negeri kita sendiri. 🇮🇩✨
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis berdasarkan pengamatan dan pandangan umum terhadap tren anime dan donghua. Artikel ini bertujuan untuk memberikan sudut pandang inspiratif serta dukungan moral bagi perkembangan industri animasi di Indonesia.—
Huawei Watch 4 Pro: Smartwatch Premium dengan Material Aerospace, Performa Andal, dan Ketahanan Air Tinggi…
Samsung Galaxy A16: Dalam dunia smartphone yang terus berkembang, Samsung selalu berhasil menarik perhatian dengan…
Daya Tahan Baterai yang LamaDalam hal daya tahan baterai, Poco F6 tetap menggunakan…